Earth Song

What about sunrise?
What about rain?
What about all the things?
That you said we were to gain

What about killing fields?
Is there a time?
What about all the things
That you said was yours and mine?

Did you ever stop to notice
All the blood we’ve shared before?
Did you ever stop to notice
The crying earth the weeping shores?

What have we done to the world?
Look what we’ve done
What about all the peace
That you pledge your only son?

What about flowering fields?
Is there a time?
What about all the dreams
That you said was yours and mine?

Did you ever stop to notice
All the children dead from war?
Did you ever stop to notice
This crying earth this weeping shore?

Aah, ooh
Aah, ooh
Did you ever stop to notice
All the blood we’ve shared before?
Did you ever stop to notice
This crying earth this weeping shore?

This song reminds me of our crying earth. Let’s do something.

Sibuk

Sebenarnya di zaman ini kita terlalu disibukkan oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, tidak penting, tidak esensial. Tapi, seakan tiada manusia lain selain kita dan kepentingan kita yang tidak penting. Kita mendahulukan kepentingan pribadi dibanding kepentingan publik. Karena egoisme adalah sifat manusia, maka mungkin kita menganggap ini manusiawi.

Beberapa alasan pun dipakai.

Kultus bagi individu-individu yang sibuk, rapat-rapat yang menyibukkan para karyawan, cafe-cafe yang sibuk, pusat-pusat perbelanjaan, tempat-tempat di mana manusia modern menyibukkan dirinya.

Sibuk, kata yang menyakitkan.

Maaf, saya sibuk.

Sampai kapankah kita akan membohongi diri sendiri?

 

Repost from old archive, Rabiul Awwal 1426

 

Andaikata Ia Bersama Kita

Tak terbayang

Bagaimana senangnya hati ini

Andaikata engkau bersama kami

Betapa jauhnya kami darimu, wahai Rasul.

Teramat rindu hati ini.

Sudilah kiranya engkau memberikan syafaatmu nanti

Di sebuah hari, yang kami nanti

Hari di mana kami bertemu dengan-Nya,

Dan Ia akan mempertemukan kami denganmu.

 

Program Kaderisasi Ulama, ISID Gontor, 1 Dzulhijjah 1432 H 16:36

Tidak Ada Dikotomi dalam Islam

Islam tidak mengenal istilah dikotomi, karena Islam adalah agama yang komprehensif.

Tidak ada apa yang disebut dengan sacred atau profane, karena semua entitas memiliki nilai masing-masing sebagai ciptaan Allah.

Termasuk, penggunaan istilah secular dan religious. Tentu saja perlu ditekankan di sini bahwa pelabelan dan dikotomi tersebut berasal dari luar Islam.

Konsep hubungan dunia-akhirat, bukanlah dikotomis. Melainkan keseimbangan dan sebab akibat. Segala yang diperbuat manusia di dunia akan diberi balasannya di akhirat kelak. Meskipun tujuan kehidupan seorang muslim adalah akhirat, akan tetapi ia juga tidak bisa meninggalkan kehidupan duniawinya dengan menjalani kehidupan asketik a la pertapa.

Misi sebagai khalifah di bumi mengharuskan manusia untuk mengerahkan usahanya demi tuntasnya amanat ini. Dr. Ismail Raji Al-Faruqi dalam bukunya Al Tawhid menyebutkan, bahwa misi penciptaan manusia telah secara indah dan bernas digambarkan dalam Al-Qur’an, sebagai pengemban amanah. Hal tersebut tertera di Surah Al-Ahzab 72.

Pada akhirnya, usaha sekularisasi yang merupakan manifesto dari dikotomi adalah suatu usaha gagal yang absurd. Sangatlah mustahil untuk membayangkan sebuah dunia tanpa adanya nilai-nilai Islam.

Program Kaderisasi Ulama, ISID Gontor, 9 Dzulhijjah 1432, 10.18

Arafah

Malam ini adalah malam Arafah. Besok, para hujjaj sedunia akan wukuf di sana. Tak terbayangkan rindunya hati ini, ingin mendatangi undangan akbar Al-Khaliq. Betapa rasa ini begitu dekat. Betapa ingin kaki menjejak tanah suci.

Rabb, izinkan aku bertalbiyah. Meski ragaku masih di sini, pintaku, hadirkan kalbuku di sana.

Labbaika Allahumma labbaik.

Tempus

Second flows

You will never count it

It runs to the river of Time

There shall never be a return

Even now

We are all in misery

Except for those who believe in Him

And act good deeds

And advice others about truth and patience
الحمد لله

[Inspired from Al-Ashr]